Panggilan Tugas

Salah satu dokumentasi digital yang masih tersimpan saat menjadi petugas pembaca “Sikap Dasar Pegawai DJBC” pada upacara peringatan hari lahir pancasila, 1 Juni 2019. Sengaja kembali melihat foto tersebut untuk menyandingkan dengan kondisi negeri saat ini yang tengah berjuang menghadapi pandemi. Alhasil upacara peringatan tahun ini pun terlaksana dengan bantuan digital, upacara daring melalui video conference.

Kondisi berbeda pun terasa sejak sembilan bulan lalu. Bukan karena telah mengandung selama sembilan bulan, namun tepat pada 1 September 2019 sudah tak berdiri tegap di mesin presensi @beacukaibekasi tiap pukul 07.30 dan 17.00. Sejak tanggal tersebut alhamdulillah saya mendapat tugas baru yang berbeda dari empat tahun sebelumnya bertugas di kantor atau di hanggar Kawasan Berikat.

Tugas ini adalah salah satu yang saya harapkan dan selalu tersemat dalam do’a baik yang terucap maupun tertulis pada lembaran kertas buku binder. Butuh waktu tiga tahun dan tiga kali mengikuti tes untuk bisa mewujudkan harapan ini, mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui jalur tugas belajar, syukur teramat dalam.

Hal lain yang patut disyukuri lagi adalah setiap bulan masih tetap mendapat notifikasi pada layar gawai. Notifikasi tentang pemberian hak yang rutin diterima atas kinerja dalam pelaksanaan tugas. “Sudah mah ga kerja, tetep dapat gaji dan tunjangan kinerja” gumam hati sambil tersenyum.

Namun perlu waktu sembilan bulan juga saya tersadar. Seperti ada bisikan hati yang bergumam, menggelitik ketika hati tersenyum senang. “Apa yang telah kamu perbuat atas syukurmu itu kawan? Katanya kamu bersyukur yang teramat dalam? Syukur amat dalam itu hanya dalam bentuk ucapan dan senyuman saja kah?”

Makin bergejolak kembali hati ini melihat banyak tetangga yang tengah berjuang dalam bayangan PHK atau yang mata pencahariannya terbatasi karena situasi pandemi, sementara diri ini dengan aktivitas yang lebih banyak #dirumahaja, pembelajaran jarak jauh dari rumah, santai dan masih mendapat notifikasi di tanggal satu setiap bulannya.

Kembali berkontemplasi atas pertanyaan diatas, “Apa yang telah diperbuat atas syukurmu?”.

Imam Ghazali menyebutkan, syukur itu tersusun dari tiga hal yaitu ilmu, hal (keadaan), dan amal (perbuatan). Ilmunya ialah dengan menyadari bahwa kenikmatan yang diterimanya itu semata-mata dari Allah SWT. Keadaannya adalah menyatakan kegembiraan karena memperoleh kenikmatan. Amalnya adalah menunaikan sesuatu yang sudah pasti menjadi tujuan serta yang dicintai oleh Allah SWT yang memberi kenikmatan itu untuk dilaksanakan.

Alhamdulillah, dalam tugas baru ini memberikan kesempatan dan kemudahan lebih dalam menambah ilmu pengetahuan, wawasan, teman atau relasi yang sepatutnya digunakan untuk memberi manfaat kepada orang lain sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Langkah yang bisa dilakukan dalam mesyukuri nikmat ini adalah sebagai berikut:
1. Mengucap syukur dengan hati dan lisan, implementasinya senantiasa menyadari bahwa segala nikmat yang didapat hakikatnya dari Allah SWT.
2. Menjaga dan memelihara nikmat yang diberikan, diaplikasikan dengan selalu berbuat yang terbaik dalam setiap tugas yang diterima.
3. Melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginan pemberi nikmat. Hakikatnya Allah SWT yang memberi nikmat, sepatutnya kita meningkatkan iman dan taqwa menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kemudian syariatnya saya mendapat tugas belajar ini melalui Bea Cukai khususnya kantor @beacukaibekasi, maka sudah seharusnya memberikan dedikasi dan kinerja yang terbaik salah satunya berupa inovasi dan prestasi.

Ada penyesalan dalam sembilan bulan yang telah dilalui atas kesempatan dan waktu yang seharusnya dapat memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kantor ataupun sekitar. Disisi lain saya juga bersyukur karena mungkin tanpa penyesalan ini saya tak akan pernah tersadar, tersadar atas nikmat yang telah diterima.

Aisyah r.a. berkata, Rasulullah SAW ketika melaksanakan shalat maka beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perbuat, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.” Lalu beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”. (HR. Muslim)

Lalu bagaimana dengan diri ini?

***

Cianjur, 1 Juni 2020
Grns

Komentar