SABTU BERSAMA BAPAK (BPK. KONTRAKAN)


"Asswr mas, pagi ini saptu 4/2_2017 antara jam 08 _  09 SAYA ke CIBITUNG ngantar Kwitansi & Kontrk Perjanjian, trm  wassw".

Petikan sms yg muncul saat pertama kubuka layar hp Samsung GT-E1272. Pada hari itu kontrakan yang saya tempati bersama teman satu kantor saya akan diperpanjang untuk 1 tahun kedepan. Tidak terasa sudah 1 tahun saya tinggal mengontrak rumah di sebuah perumahan di daerah Kec. Cibitung, Bekasi. Sudah 1 tahun juga saya tinggal berdua dengan teman saya namun belum jua dikarunai buah hati (karena teman saya laki-laki). Ya sudah lupakan, dari sms bapak pemilik kontrakan tadi, kemudian datang ke tempat kontrakannya, sampai pamit pergi kembali, saya akan sedikit cerita hal menarik yang saya dapat dari obrolan sederhana saya, teman saya & bapak, ibu pemilik kontrakan. Saya namai obrolan tersebut dengan nama "Obrolan cat yg mewarnai hati".

Kenapa ada cat? Ya, setelah saya resmi perpanjang kontrakan, bapak pemilik kontrakan membawa cat dinding untuk menambal warna cat dinding depan rumah yang di beberapa bagian mengelupas. Sebut saja bapak pemilik kontrakan saya namanya pak Anto, dan istrinya bermana bu Anto. Beliau datang berdua bersama istrinya, padahal harapan saya beliau membawa putra/ khususnya putrinya. Karena menurut prediksi saya, usia bapak & ibu Anto beberapa tahun diatas org tua saya. Saya prediksi beliau dikarunia 3 s.d 4 anak, anak pertama & kedua sdh berkeluarga, dan sisanya seumuran saya atau masih sekolah SMA, dan saya harap no. 3 & 4 itu perempuan. Itulah sedikit prediksi dari seorang bujang lokal yang sedikit sensitif khususnya kepada seorang perempuan yang harapannya kelak akan mendampingi menikmati sisa waktu & hidupnya (suit wiiww...)

Prediksi saya 90% benar. Bapak & ibu Anto dikaruniai 3 org anak. Yang pertama laki-laki, usia sekitar 37 th, sudah berkeluarga. Beliau cerita bahwa dulu anaknya yang pertama tidak mau melanjutkan kuliah di perguran tinggi negeri. Saya mulai bertanya-tanya, kenapa bisa seperti itu, setahu saya semua pelajar Indonesia pasti sangat menginginkan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri favorit. Ibu Anto sepakat dengan saya, beliau menuturkan di tahun 98, universitas swasta yang favorit di Jakarta ialah Trisakti. Anaknya tersebut ngebet untuk masuk Trisakti, walaupun ibu Anto kurang begitu sependapat dengan anaknya melihat kondisi yang kurang kondusif di tahun 98. Namun akhirnya ibunya tetap mengijinkan putra pertamanya tersebut untuk kuliah disana. Ibu Anto kurang begitu banyak cerita tentang putra pertamanya ini, namun banyak cerita di putra kedua & sibungsu.

Ibu Anto melanjutkan cerita tentang putra yg no. 2. Beliau awalnya sedikit khawatir kepada putra keduanya ini. Sewaktu SMP, putranya ini kerjaannya main bola terus & kurang memperhatikan akademiknya. Kemudian setelah lulus SMP bapak & ibu Anto berinisiatif memasukan putranya ke SMA yang menurutnya bisa membawa dampak positif kepada putranya tersebut. Putra yang keduanya ini memang sedikit ngeyel. Ia tidak sependapat dengan SMA pilihan orang tuanya karena Ia telah punya pilihan SMA lain. Bahkan di awal-awal masuk SMA, ibu & bapak Anto sampai harus mengantar putranya tersebut sampai benar-benar masuk ke sekolah. Beliau benar- benar mengawasi jaga-jaga anaknya berontak.

Namun proses pengawasan tersebut tidak berlangsung lama. Perlahan putra keduanya tersebut menikmati sekolahnya. Alhamdulillah, setelah ia lulus SMA, ia lulus di Universitas Indonesia Prodip 3 Akuntansi. Sebagai orang tua, ibu & bapak Anto pasti bangga putranya bisa masuk universitas negeri & favorit. Walaupun awalnya beliau sedikit khawatir terhadap putra keduanya ini, buah usaha bimbingan ibu & bpk Anto berbuah hasil yang manis.

Tiba-tiba buah manis tersebut berubah menjadi kecut, ketika putranya berontak kembali. Setelah 4 semester menjalani kuliah di UI, ia mengungkapkan bahwa jurusan kuliah yang ia jalani tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Ia sebetulnya lebih tertarik dengan Ilmu Politik. Ibu & Bapak Anto jelas kaget, kebanggaannya selama ini tidak diikuti oleh putranya. Sempat usaha ibu & bapak Anto untuk melobby putranya ini untuk tetap kuliah di UI. Namun dengan keteguhan hati, putranya ini menolak & ingin pindah kuliah. "Itu keinginan ibu, tapi yang kuliah siapa bu? Ibu atau aku? Yg belajar siapa? Ibu atau aku?" ucap putranya. Akhirnya putra kedua bapak & ibu Anto ikut tes perguruan tinggi negeri dan lulus di Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Ibu & Bapak Anto pun akhirnya mengikuti keinginan putranya tersebut. Benar saja, pilihan putranya tersebut memang sesuai dengan apa yang Ia inginkan. Ibu Anto bercerita, ketika kuliah ia aktif di organisasi sambil bekerja sana sini untuk bisa belajar hidup mandiri. Gelar sarjana ia dapat hanya dengan 3,5 tahun. Waktu yang relatif cepat untuk meraih gelar sarjana. Hal tersebut membuat bangga kembali ibu & bapak Anto. Ditambah lagi, ketika putranya diwisuda hari Sabtu, hari Seninnya beliau sudah mulai bekerja menjadi tim salah satu program talk show favorit yang disiarkan di salah satu televisi swasta. Ia menjadi tim research program Mata Najwa. "Apa yang ditayangkan di Mata Najwa, merupakan salah satu buah pemikiran dari putra saya & tim nya" ungkap bu Anto. Profesi yang baru saya ketahui, menjadi otak dari sebuah pemikiran program talk show sekelas Mata Najwa, that's awesome, isn't?

"Kalau mau tau namanya, lihat saja di credit title akhir acara Mata Najwa, cari nama-nama di tim research, inisialnya huruf “F" tutur bu Anto. "Wah saya jadi penasaran, keren putra ibu" jawab saya. "Alhamdulillah" jawabnya. Saya jadi teringat quote menarik, Do what you love, Love what you do, Do it for someone you love. Mungkin putra kedua bapak & ibu Anto ini sangat enjoy karena sesuai passion & kata hatinya. Ya, pilihan pertama itu memang dari hati (baper..)

Dan tiba di bagian paling ditunggu saat bu Anto mulai bercerita tentang anak bungsunya. Pak Anto masih asyik mengecat dengan gesit walupun saya lihat beliau sedikit kewalahan ketika harus berdiri dari posisi jongkok. Saya & teman saya hanya bisa membantu sedikit sambil mendengarkan cerita dari bu Anto. Saya & teman saya semakin tertarik ketika bu Anto bercerita bahwa putrinya sibungsu tengah menjalani semester akhir di MIPA Universitas Indonesia. Aku reflek bertanya "berarti putri ibu seumuran kita, lulus SMA tahun 2013 kan bu?. "Iya, dia kelahiran 95, emang Garnis kelahiran tahun berapa? Tanya bu Anto. "94 bu" jawabku.

Bu Anto kembali bercerita & sedikit mengungkapkan kekhawatiran terhadap putrinya ini. "Khawatir apanya bu, tentang akademiknya lagi?" Tanya teman saya. "Bukan, mengenai akademik ibu ga pernah khawatir. Nama putri ibu dari SD sampai SMA pasti selalu tercantum di 5 besar. Mengenai prestasi belajar, ga perlu diragukan lagi. Alhamdulillah anak ibu yang bungsu ini lancar selalu khususnya tentang perjalanan akademik" cerita bu Anto.

Beliau bercerita lagi bahwa putri yang bungsunya ini semester kemarin baru saja pulang dari Jerman. Disana ia presentasi mengenai kajian yang ditulisnya. Papernya tembus sampai Jerman & berkesempatan mendapat kuliah umum disana dari Prof. DR. BJ Habibie. Disana juga ia diminta untuk menari, karena putri bu Anto ini dari kecil sudah ikut sanggar tari.

Sibungsu menari tari Jawa di Jerman. From Jawa to Jerman, like easy. Biaya ia ke Jerman mendapat subsidi 50% dari pihak universitas & 50% nya lagi ditanggung pribadi. Namun ibu & bpk Anto tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Kebahagian putrinya sudah sangat memberi kebahagiaan juga bagi mereka. Disamping itu, putrinya mendapat beasiswa juga untuk kuliahnya. Hmmm lengkap sudah.

Saat ini sibungsu sedang sibuk mempersiapkan penelitian mengenai skripsinya yaitu tentang Uji Sertifikasi Kopi Se-Indonesia. Beberapa minggu kedepan ia akan berangkat ke Jogja bersama teman sekampus & juga teman dari kampus lain dari kampus UGM dan mahasiswa Jember. Program penelitian ini juga mendapat dukungan dari salah satu universitas di Australia. Mahasiswa dari Australia pun akan ikut bersama tim nya untuk program penelitan sertifikasi kopi tersebut. Wow! Sekali lagi putra & putri ibu & bpk kontrakan saya ini memberi kejutan & ledakan kepada pikiran saya. "Di usia 21 tahun, putri ibu & bpk Anto ini sudah melakukan hal yang cukup menakjubkan & yang dilakukannya itu bukan hal yang kecil. Saya di usia 22 tahun ini ngapain aja???" Ucap hatiku.

"Kopi yang terkenal itu dari Aceh bu" ucap teman saya, karena teman kontrakan saya dari Sumatera & pasti tahu persis tentang hal-hal mengenai Sumatera. "Ya, memang betul, anak saya nanti akan memulai penelitian dari Aceh bersama mahasiswa lain dari Jogja, Jember, dan Australia itu. Itu mas yang bikin ketar ketir". Ungkap bu Anto.

Itu hal yang membuat khawatir ibu & bpk Anto terhadap putri bungsunya tersebut. Hal yang sudah umum bagi setiap orang tua, khususnya kepada seorang anak perempuan. Bu Anto sejujurnya menginginkan ada seseorang yang menemani putrinya tersebut. Menemani disini maksudnya ialah seseorang yang bisa ikut mengawasi dengan ikatan komitmen, karena maklum bu Anto khawatir bahwa sibungsu wanita. "Nggak mau, pokoknya aku mau lanjut S2 dulu, berkarir & menggapai apa yang aku inginkan" ungkap putri bu Anto.

Hal itu yang membuat bu Anto khawatir, melihat realita ada beberapa perempuan-perempuan hebat diluar sana yang karirnya sangat cemerlang, gelar akademiknya bertabur, namun belum memiliki pasangan hidup. Relevan dengan pepatah wanita baik, untuk pria yang baik. Sehingga wanita yang luar biasa awesome, pasti dengan pria yang luar biasa awesome juga. Namun mengingat rasio pria lebih sedikit daripada wanita, apakah jumlah "pria yang luar biasa awesome" bisa mengimbangi supply dari demand/ permintaanya? Hmmmmmm...

Setelah proses nambal cat dinding selesai, bu Anto pun mau tidak mau mengakhiri juga sekilas cerita tentang anak-anak nya tersebut. Alih alih mau modus untuk lebih kepoin putri alias anak bungsu dari ibu & bapak Anto ini, saya jadi berpikir ulang. Teringat kutipan dari bukunya Setia Furqon Kholid yang berjudul "Jangan Jatuh Cinta, Tapi Bangun Cinta", jika kamu suka sama seseorang, penuhi dulu 3 poin ini, yaitu:
1. Apa alasan/ sebab kita menyukainya?
2. Pastikan kita lebih baik dari orang yang kita suka.
3. Sibukan diri kita untuk bisa lebih baik atau minimal sama dengan orang yg kita suka.

Melihat putri bu Anto yang di usianya sudah bisa melakukan beberapa hal yang membuat kagum orang yang mengetahuinya, SAYA SAMPAI SAAT INI UDAH NGAPAIN AJA?

Ibu & bapak Anto pun pamit & meninggalkan pesan untuk mengundang kami berkunjung ke kediamannya di daerah Cinere, Jakarta Selatan. "SIAP!" Jawab saya & teman saya.

Seiring bapak & ibu Anto pergi menjauh dari kontrakannya, saya & teman saya kembali masuk rumah & berbincang kembali mengenai prestasi-prestasi putra putri ibu & bapak Anto.

"Hmmm, sepertinya berat Tom, modusin putrinya si ibu" saya & teman saya tertawa.
"Kita selama 22 thn ini ngapain aja?" Dari sana saya kembali membuka rencana-rencana kedepan yang tertulis dalam buku agenda saya. Semoga bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki & selalu istiqomah menggapai tujuan-tujuan yg hendak dicapai. Aamiin

***

Bekasi, 5 Februari 2017
@garnismrustaman

Komentar