Beruban Tanda Orang Pemikir?

(suasana stasiun Ciroyom, Bandung, 2013)

"De Garnis, itu sudah ada uban di rambut belakang", seru mbak Dwi, salah satu bibi saya dari salah satu 8 bibi yang saya punya. "Jangan dicabut! Biarin, itu tandanya orang nya suka mikir, pemikir keras", tambah pamanku. Saya hanya tertawa, uban yang tertanam sudah saya ketahui jauh-jauh hari dari tukang cukur langganan saya di Bekasi.

Suasana diruang keluarga rumah nenek semakin hangat, begitu juga pikiran saya. Apa iya kalau dirambut sudah ada uban, berarti orang itu tandanya suka berpikir keras??. Dipikir-pikir emangnya saya suka berpikir apa yak? apalagi sampe keras. Mikirin apa? "Mikir banyak bagus de Garnis, tapi jangan terlalu ngoyo" tambah mbak Dwi disela-sela lamunan saya. Maklum mbak saya yang satu ini wong Klaten, jadi nya pepatah Jawa bermunculan.

Setelah dicari di KBBI hp oppo saya, [ngo.yo] artinya memaksakan diri melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan kemampuan, kondisi, dan waktu.

Saya juga teringat, mungkin dalam rutinitas kerja sehari-hari, saya sudah termasuk kategori ngoyo, suka maksa ngelembur sampe malem bahkan sampe nginep di kantor untuk menyelesaikan kerjaan. Mungkin di kalangan mahasiswa serupa dengan sebutan SKS (Sistem Kebut Semalam), dan itu tdk disarankan. Padahal sebetulnya kerjaan tersebut tidak bisa selesai dalam sehari atau semalam suntuk. Kerjaan itu harus di manage, dibagi beberapa waktu supaya efektif & efisien.
 
Benar juga, tidak baik untuk terlalu [ngoyo] yang bukan pada tempat/ momen yang pas. Manage waktu kita dalam membagi aktivitas, alokasikan beberapa hari dalam seminggu/ sebulan untuk menjernihkan pikiran dengan kumpul bersama keluarga, rekreasi, menjelajah tempat baru atau menekuni hobi.

Have a great day!

Komentar